
CPNS. Sejumlah tenaga honorer pada instansi pemerintahan Kota Palu yang tidak masuk dalam penetapan data base tahun ini, terancam diberhentikan.
Photo by: Achun Palu



DISITA. Sedikitnya 138 batang kayu illegal berhasil di tangkap jajaran aparat Polisi Sektor (Polsek) Biromaru, di Desa Paneki Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Donggala. Kayu jenis Matopaga itu rencanaya akan diselundupkan untuk dipasok di somel. Menurut keterangan aparat setempat, pelaku berdalih kayu tersebut digunakan untuk pembuatan gereja.
Photo by: Achun Palu



Sampai saat ini, aparat masih terus berjaga di kantor KPUD Donggala , dengan menyiapkan mobil meriam air dan barikade kawat berduri. (ahmad/mal)
Photo by: ahmad muhsin





PALU-Perayaan hari sumpah pemuda, seharusnya menjadi tradisi bangsa Indonesia khususnya para pemuda yang dimulai dari bangku pendidikan. Namun kini kenyataannya berbeda, saat ini perayaan Sumpah Pemuda hanya merupakan inisiatif dari masing-masing sekolah. Pada perayaan hari sumpah pemuda yang jatuh Selasa (28/10) kemarin, banyak sekolah yang acuh tak acuh terhadap hari pemersatu bangsa Indonesia tersebut. Dari penelusuran Media Alkhairaat, banyak sekolah yang sama sekali tidak melakukan kegiatan dalam memperingati hari sumpah pemuda. Sekolah tersebut antara lain SMA Negeri 4 Palu, STM Negeri Palu, SMP Negeri 3 Palu, dan masih banyak sekolah lainnya. Hedir, salah seorang siswa sekolah mengaku, sejak jam masuk sampai dibunyikannya bel yang menandakan, berakhirnya jam sekolah, dirinya sama sekali tidak melihat aktifitas yang menunjukkan perayaan sumpah pemuda di sekolahnya. “Tidak ada perayaan apa-apa. Biasa-biasa saja,” ujarnya. Hal senada juga disampaikan Ece, siswa salah satu SMP di Kota Palu. “Tidak ada upacara bendera, apalagi perayaan lainnya,” ungkap Ece spontan. Selain itu menurut Ece, ia dan beberapa orang rekannya sejak pagi sudah menantikan kegiatan yang mereka harap diadakan oleh pihak sekolah. Namun kenyataannya tidak ada. “ Ya, pasti kecewa,” ujarnya. Berbeda dengan sekolah-sekolah lainnya SMA Negeri 1 Palu berinisiatif, merayakan hari sumpah pemuda dengan melakukan upacara bendera. Drs Abd Chair A Mahmud. Kepala sekolah SMA Negeri 1 Palu mengatakan, upacara bendera itu atas inisiatif dari pihak sekolah itu sendiri. “Tidak ada pemberitahuan dari mana pun soal peringatan Hari Sumpah Pemuda di SMA Negeri I. Ini atas dasar inisiatif sekolah,” akunya. Menanggapi hal tersebut, kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Palu, Ardiansyah mengaku, pihaknya sama sekali tidak berhak mengambil tindakan atas tidak adanya perayaan sumpah pemuda yang ada di beberapa sekolah di Kota Palu. Hal ini disebabkan pihaknya memang tidak memberi imbauan kepada sekolah-sekolah tersebut. “Memang tidak ada imbauan dari pihak disdik Kota Palu,” katanya. Harusnya kata Ardiansyah, hal itu menjadi tanggung jawab pihak Dinas Pemuda dan Olahraga untuk mengedarkan surat imbauan perayaan hari sumpah pemuda di sekolah-sekolah. ”Inikan menyangkut pemuda, jadi yang lebih tahu itu mereka,” tandasnya.(banjir)
DONGGALA- Dua perwakilan pengunjukrasa Aliansi Masyarakat Banawa dan Pantai Barat (AMBARA), Abdul Rasyid dan Helmy Sahibe dibonyok massa di ruang rapat pleno Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Donggala, Selasa sore kemarin, saat penetapan pasangan Habir Ponulele-Aly Lasamaulu (HALAL) sebagai pemenang calon bupati dan wakil bupati Donggala.
Pemukulan itu berawal saat Abdul Rasyid dan Helmy tampil di ruang rapat pleno KPUD membacakan aspirasi AMBARA. Dalam petisinya, Rasyid dan Helmy menyatakan pilkada Donggala cacat hukum karena keikutsertaan masyarakat Sigi. Di hadapan banyak orang di ruang rapat pleno KPU mereka minta penetapan Pilkada harus ditunda karena merupakan pembohongan publik. “Termasuk bapak-bapak yang hadir di dalam ruangan ini juga pembohong,”lantang Rasyid.
Mendengar ucapan tersebut, spontan saja sejumlah hadirin berteriak “kurang ajar kamu,”. Mereka tidak menerima disebut sebagai pembohong. Beberapa orang dalam ruang rapat tersebut langsung beraksi. Seorang anggota PPK yang hadir berinisial KONE langsung berdiri melangkah ke depan, tanpa aba-aba melayangkan tinjunya ke wajah Abdul Rasyid. Sejumput kemudian, anggota PPK lain juga mengejar dan memukul Rasyid. Melihat itu sejumlah undangan juga ikut-ikutan mengeroyok kedua pengunjuk rasa tersebut.
Ironisnya sebelum insiden terjadi tak ada aparat kepolisian berjaga. Aparat keamanan, yang jumlahnya ratusan hanya berjaga-jaga di pintu gerbang dan di halaman kantor KPU. Aparat baru beramai-ramai masuk melerai setelah kedua korban pengeroyokan itu wajahnya babak belur. Itu pun aparat sempat kewalahan menyelamatkan kedua korban karena situasi dalam rapat pleno mulai kacau, sejumlah kursi berhamburan dan beberapa gelas di atas meja pecah berhamburan jatuh dilantai.
Suasana rapat sempat tegang dan nyaris bubar, akibat banyaknya
Ketua KPUD Donggala Rifai Amrullah menyatakan kalau ada pihak yang tidak puas atau merasa dirugikan dengan hasil pilkada ini dapat menempuh melalui jalur hukum. “Kami sudah tetapkan pasangan Halal sebagai pemenang Pilkada Donggala. Yang jelas kami telah menjalankan tugas dengan baik sesuai dengan prosedur perundang-undangan yang berlaku,” ucap Rifai.
Photo by: Jamrin

Demo yang diikuti ratusan orang pemuda ini, diwarnai dengan aksi merebahkan diri di depan kantor gubernur Sulawesi Tengah. Aksi itu sebagai lambang keterpurukan masyarakat kecil dan pemuda saat ini.
Dalam orasinya,
Selain menuntut penyediaan lapangan pekerjaan bagi pemuda, FPR juga menuntut realisasi dana pendidikan sebesar 20 persen dan pemberhentian pemotongan subsidi pendidikan serta pemberian sekolah gratis dan kuliah murah bagi anak buruh tani dan tani miskin.
“Diharapkan dengan momen sumpah pemuda ini pemerintah akan lebih memberi ruang bagi para pemuda dan masyarakat kecil dalam meraih kehidupan yang lebih baik,’’tandas